Ketika Nadin Amizah Menyuarakan Luka Fatherless Lewat Laika

Penulis: Rini Azhari
Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:14:00 WIB

Nadin Amizah kembali dengan karya yang menggugah. Album Laika, Yang Ditinggalkan yang dirilis akhir Agustus lalu bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan cerminan dari realitas sosial yang sering terabaikan. Nama Laika diambil dari anjing jalanan Moskow yang menjadi makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi dalam misi Sputnik 2 pada 1957. Dalam album ini, Laika menjadi metafora bagi mereka yang mendambakan kasih sayang namun tak kunjung mendapatkannya.

"Di mataku, Laika adalah sosok yang menginginkan kasih yang tak datang, dan permohonan yang akhirnya berubah jadi amarah," ungkap Nadin dalam sebuah wawancara. Pernyataan ini seolah membuka pintu bagi banyak pendengar yang merasakan hal serupa.

Beberapa lagu dalam album ini langsung viral dan sering dijadikan latar belakang konten di media sosial, seperti Reservasi Untuk Dua, Tamu Berwajah Itu, dan Amarah. Ketiganya memiliki benang merah: menggambarkan fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Nadin sendiri menyadari bahwa isu ini masih sangat relevan di Indonesia. Ia bahkan mempertanyakan mengapa anak selalu mendapatkan stigma durhaka, padahal bisa jadi orang tua yang meninggalkan tanggung jawab.

Lirik dalam Reservasi Untuk Dua menjadi salah satu yang paling menyentuh: "Dan jika neraka tempatku durhaka, kuyakin kau juga ku temu di sana. Kita tak berbeda, tak ada yang menang. Di dunia tak jumpa, kita bersama di sana." Baris ini seolah mewakili suara mereka yang terluka namun tetap merindukan sosok ayah.

Album ini kemudian membuka ruang diskusi yang lebih luas. Banyak warganet membagikan kisah pribadi mereka tentang ayah yang absen. Kami mewawancarai tiga pendengar Nadin yang memiliki pengalaman serupa. Berikut cerita mereka:

Nabila: Amarah yang Menjaga Kenangan

Sejak kecil, Nabila menyaksikan pertengkaran orang tuanya hampir setiap hari. Hal-hal sepele seperti masakan yang tidak dimakan ayahnya bisa memicu keributan. Ia bahkan mengira pertengkaran adalah hal normal dalam pernikahan. Baru saat kuliah, ia sadar bahwa tidak semua keluarga seperti itu. Puncaknya, pada 2025, ayahnya memilih tinggal di Bogor sementara Nabila dan ibunya kembali ke Jakarta. Mereka tidak bercerai, tetapi pisah rumah.

"Awalnya aku marah. Kenapa ayah seperti melepas tanggung jawab? Tapi sekarang aku sadar, hidup ayah lebih tenang tanpa mama, begitu juga mama," tuturnya. Pengalaman ini membuat Nabila sulit membayangkan standar pasangan yang baik. Ia merasa album Laika memvalidasi emosinya, terutama lagu Amarah. Lirik "Jangan ambil amarahku, hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku" sangat relate baginya. Marah adalah satu-satunya cara agar ayahnya tetap ada dalam ingatannya.

Flo: Ketika Durhaka Bukan Soal Anak

Flo tumbuh dalam keluarga yang tampak harmonis dari luar. Namun, ayahnya tidak pernah hadir secara emosional. Bahkan, ia kerap melakukan kekerasan fisik—memukul dengan gesper, mengunci di kamar mandi gelap, hingga merusak mainan pinjaman. Ayahnya juga sering mengomentari tubuh Flo, membuatnya insecure. Ibunya yang bekerja tetap harus mengerjakan semua tugas rumah tangga. Ayahnya bahkan pernah berkata, "Untuk apa punya istri kalau tidak menyiapkan makan atau membereskan rumah?"

Flo menyadari, pola pikir itu lahir dari nilai patriarki yang mengakar. Ia pun mempertanyakan, jika ia dianggap durhaka, bukankah ayahnya juga sama? Album Laika membantunya memahami bahwa luka seperti ini nyata dan layak untuk diceritakan.

Kisah Nabila dan Flo hanyalah dua dari sekian banyak suara yang terwakili oleh album Nadin Amizah. Laika, Yang Ditinggalkan bukan hanya karya seni, tetapi juga cermin bagi mereka yang pernah merasa ditinggalkan. Melalui lagu-lagunya, Nadin mengajak kita untuk tidak sendirian dalam merasakan luka, dan berani menyuarakannya.

Reporter: Rini Azhari